Pemikiran Hukum Islam Abdurrahman Wahid: Harmonisasi Islam dan Budaya

Main Article Content

Imam Mustofa
Ahmad Syarifudin
Dri Santoso

Abstract

This article discusses Islamic legal thought of Abdurrahman Wahid. According to this article, Wahid’s fiqh used the contemporary knowledge system as a core paradigm. Wahid used a concept called Pribumisasi Islam to try to unify the cultures where Islam arrived and lived. He attempted to contextualize nash and issue in Indonesia using the pribumisasi Islam idea. Wahid’s fiqh did not modify the nash; rather, it refined and expanded its application, contextualized Islam, and harmonized it within the times to meet the needs of society. Wahid refused to formalize Islamic law in Indonesia in its application. Aside from historical reasons, he claimed that Islam has a universal component that has contributed to the development of human values. Formalizing Islamic law in a multicultural and pluralistic country goes against the universality of Islamic teaching. Furthermore, the formulation of Islamic law based on conventional sources is partially irrelevant in this day. Wahid tended to apply Islamic values to everyday life rather than displaying Islam through numerous symbols.


Abstrak


Artikel ini membahas pemikiran hukum Islam Abdurrahman Wahid. Penggalian terhadap pemikiran hukum Islam Wahid menemukan bahwa fikih Wahid menggunakan sistem pengetahuan modern sebagai basis paradigma. Wahid mengharmonisasikan antara Islam dan adat di mana Islam datang dan tinggal, konsep yang kemudian dinamakan dengan Pribumisasi Islam. Di dalam Pribumisasi Islam, Wahid menjadikan pemahaman terhadap nash dikontekstualisasikan dengan masalah yang ada di Indonesia. Fikih Wahid tidak mengubah nash, melainkan mengubah dan mengembangkan pengaplikasiannya saja, menginterpretasikan Islam secara kontekstual dan menyelaraskan dengan perkembangan zaman sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dalam penerapannya, Wahid menolak formalisasi hukum Islam di Indonesia. Wahid mendasarkan pada pertimbangan historis di mana para pendiri bangsa saat itu menyepakati untuk tidak menjadikan Indonesia sebagai negara teokratis, dan karena Islam memiliki dimensi universalisme yang telah memberi sumbangsih dalam membangun nilai-nilai kemanusiaan. Memformalisasikan hukum Islam di dalam negara yang multikultur dan plural tidak sejalan dengan sifat universalitas ajaran Islam. Alasan yang lain, formulasi hukum Islam dalam kitab-kitab klasik sebagian tidak relevan untuk diterapkan pada saat ini, bila coba untuk diaplikasikan tidak menutup kemungkinan justru akan melahirkan masalah-masalah baru. Wahid lebih condong untuk menerapkan Islam secara substantif ketimbang memamerkan Islam melalui beragam simbol.

Article Details

Section
Articles

References

Abidin, Zainal. “Pemikiran Abdurrahman Wahid tentang Islam dan Pluralitas.” Humaniora 3, 2 (2012): 373-86. DOI: 10.21512/humaniora.v3i2.3332.

Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad. al-Mustasfa min ‘Ilmi al-Usul. Digital Library, al-Maktabah al-Syāmilah al-Iṣdār al-Tsānī, 2005.

Arif, Syaiful. Humanisme Gus Dur: Pergumulan Islam dan Kemanusiaan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2013.

Assyaukanie, Luthfi. Ideologi Islam dan Utopia: Tiga Model Negara Demokrasi di Indonesia. Jakarta: Freedom Institute, 2011.

As-Sayis, Syek Muhammad Ali. Tarikh al-Fiqh al-Islami (Sejarah Pembentukan dan Perkembangan Hukum Islam). Terjemahan Dedi Junaedi. Jakarta: Akademika Aressindo, 1996.

Barton, Greg. Biografi Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid. Yogyakarta: LKiS, 2008.

Barton, Greg. Gagasan Islam Liberal di Indonesia: Pemikiran Neo-Modernisme Nurcholish Madjid, Djohan Efendi, Ahmad Wahid, dan Abdurrahman Wahid. Jakarta: Paramadina, 1995.

Chalik, Abdul. Nahdlatul Ulama dan Geopolitik: Perubahan dan Kesinambungan. Yogyakarta: Impulse & Buku Pintar Yogyakarta, 2011.

Dahlan, Moh., Zakiyuddin Baidlawy, dan Sugiono Sugiono. “Gus Dur’s Ijtihād Paradigm of Contemporary Fiqh in Indonesia.” Al-Ahkam, 29, 2 (2019): 167-88. DOI: 10.21580/ahkam.2019.29.2.4193.

Fuad, Muhammad. “Islam, the Indonesian State, and Identity the Ideas of Nurcholis Madjid and Abdurrahman Wahid.” Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia, 7, 1 (2005): 97-110. DOI: 10.17510/wjhi.v7i1.292.

Hoffman, Eva R. “Christian-Islamic Encounters on Thirteenth-Century Ayyubid Metalwork: Local Culture, Authenticity, and Memory.” Gesta, 43, 2 (2004): 129-42. DOI: 10.2307/25067100.

Islamy, Athoillah. “Landasan Filosofis dan Corak Pendekatan Abdurrahman Wahid Tentang Implementasi Hukum Islam di Indonesia.” Jurnal Al-Adalah : Jurnal Hukum dan Politik Islam, 6, 1 (2021): 51-73. DOI: 10.35673/ajmpi.v6i1.1245.

Kaco, Suardi. “Fiqh Lokalitas: Integrasi Hukum Islam dan Budaya Lokal (Studi Pemikiran Hukum Kontekstual Abdurrahman Wahid).” J-Alif: Jurnal Penelitian Hukum Ekonomi Syariah dan Sosial Budaya Islam, 4, 1 (2019): 29-45. DOI: 10.35329/jalif.v4i1.536.

Khalaf, ‘Abdul Wahhab. ‘Ilm Usul al-Fiqh. Lebanon: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2007.

Majul, Cesar Adib. “Islamic and Arab Cultural Influences in the South of the Philippines.” Journal of Southeast Asian History, 7, 2 (1966): 61-73. DOI: 10.1017/S021778110000154X.

Malik, Dedy Jamaluddin dan Idi Subandy Ibrahim. Zaman Baru Islam Indonesia. Bandung: Zaman Wacana Mulia, 1998.

Mirza, Muhammad. Gus Dur Sang Penakluk. Tebuireng Jombang: Pustaka Warisan Islam, 2010. https://id1lib.org/book/11970680/cdca61.

Munawwir, Ahmad Warson. Kamus al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap. Surabaya: Pustaka Progresif, 1977.

Naim, Ngainun. “Abdurrahman Wahid: Universalisme Islam dan Toleransi.” Kalam, 10, 2 (2016): 423-44. DOI: 10.24042/klm.v10i2.8.

Rochmat, Saefur. “The Fiqh Paradigm for the Pancasila State: Abdurrahman Wahid’s Thoughts on Islam and the Republic of Indonesia.” Al-Jami’ah: Journal of Islamic Studies, 52, 2 (2014): 309-29. DOI: 10.14421/ajis.2014.522.309-329.

Rosidi. “Inklusivitas Pemikiran Keagamaan Abdurrahman Wahid.” Kalam, 10, 2 (2016): 445-68. DOI: 10.24042/klm.v10i2.9.

Salama, Mohammad. Islam and The Culture of Modern Egypt: From the Monarchy to the Republic. Cambridge: Cambridge University Press: 2018. DOI: 10.1017/9781108265027.

Syafi’ie, M. “Pemikiran Organisasi Islam tentang Penerapan Hukum Pidana Islam: Tinjauan Hukum Hak Asasi Manusia”. Undang: Jurnal Hukum, 2, 2 (2019): 225-64. DOI: 10.22437/ujh.2.2.225-264.

Syarifuddin, Amir. Ushul Fiqh, Jilid 1. Jakarta: Logos, 1999.

Syarkun, Mukhlas. Ensiklopedi Abdurrahman Wahid Jilid 1. Jakarta: PPPKI, 2013.

Syawaludin, Muhammad. “Cultural Harmony Between Islam and Local Traditions of Caramseguguk in Rengas Payaraman Ogan Ilir Indonesia.” IOP Conference Series: Earth and Environmental Science 156 (2018). DOI: 10.1088/1755-1315/156/1/012037.

Wahid, Abdurrahman. Gus Dur Menjawab Kegelisahan Umat, diedit oleh Bagus Dharmawan. Jakarta: Kompas, 2007.

Wahid, Abdurrahman. “Hukum Pidana Islam dan Hak-Hak Asasi Manusia”. Dalam Muslim di Tengah Pergumulan: Berbagai Pandangan Abdurrahman Wahid, 94-100. Jakarta: Leppenas, 1981.

Wahid, Abdurrahman. “Indonesia’s Mild Secularism.” SAIS Review, 21, 2 (2001): 25-8. DOI: 10.1353/sais.2001.0051.

Wahid, Abdurrahman. Islam Kosmopolitan: Nilai-nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan, diedit oleh Agus Maftuh Abegebriel dan Ahmad Suaedy. Jakarta: The Wahid Institute, 2007.

Wahid, Abdurrahman. Islamku, Islam Anda, Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi. Jakarta: The Wahid Institute, 2006.

Wahid, Abdurrahman. “Melindungi dan Menyantuni Semua Paham.” Dalam Ragam Ekspresi Islam Nusantara, diedit oleh Gamal Ferdhi, xxiii-xxv. Jakarta: The Wahid Institute, 2008.

Wahid, Abdurrahman. “Menjadikan Hukum Islam sebagai Penunjang Pembangunan”, dalam Hukum Islam di Indonesia Pemikiran dan Praktek, diedit oleh Tjun Suryaman, 1-17 Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1991.

Wahid, Abdurrahman. Pergulatan Negara, Agama, dan Kebudayaan. Depok: Desantara, cetakan kedua, 2001.

Wahid, Abdurrahman (ed.). Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia. Jakarta: The Wahid Institute, 2009.