Pendekatan Pluralisme Hukum dalam Studi Hukum Adat: Interaksi Hukum Adat dengan Hukum Nasional dan Internasional

Main Article Content

Sartika Intaning Pradhani

Abstract

Scientific study on adat law starts from empirical research, which finds that adat law does not stand alone but works together with other legal orders. This paper is written based on normative legal research by collecting secondary data to answer (1) how legal pluralism explains adat law and adat law community; and (2) how the application of legal pluralism approach in adat law study. The legal pluralism approach explains adat law not as an isolated/marginalized legal order but as a dynamic legal order which interacts with national and international law. From the perspective of legal pluralism, the adat law community is a semi-autonomous social field that produces rules from the interplay between the adat law community and other legal communities/institutions. Categorization of legal pluralism approach application are as follow: first, weak legal pluralism where state law recognizes adat law either by law and regulation or court decision; second, strong legal pluralism which describes through the semi-autonomous social field, shopping forum, and forum shopping concept; third, legal pluralism multi-sited which explain the relationship between legal phenomena in local, national, and international level; and elaborate the role of information, communication, and technology which bridges legal phenomenon from one to another.


Abstrak


Kajian ilmiah terhadap hukum adat berangkat dari penelitian lapangan yang menemukan bahwa hukum adat tidak pernah berdiri sendiri dan selalu berinteraksi dengan tertib hukum yang lain. Artikel ini ditulis berdasarkan penelitian hukum normatif dengan mengumpulkan data sekunder berupa laporan-laporan penelitian dan artikel jurnal untuk untuk menjawab (1) bagaimana pendekatan pluralisme hukum menjelaskan hukum adat dan masyarakat hukum adat; dan (2) bagaiamana pendekatan pluralisme hukum digunakan dalam studi hukum adat hari ini. Pendekatan pluralisme hukum memahami hukum adat tidak sebagai suatu ketertiban hukum yang terpisah atau termarginalisasi dari ketertiban hukum yang lain, tetapi secara dinamis terus berinteraksi dengan hukum nasional maupun internasional. Dari perspektif pluralisme hukum, masyarakat hukum adat merupakan suatu wilayah sosial semi otonom yang melahirkan hukum berdasarkan hubungan saling memengaruhi dengan masyarakat hukum lain. Penerapan pendekatan pluralisme hukum dalam studi hukum adat dapat dikelompokkan dalam tiga kategori. Pertama, pluralisme hukum lemah di mana negara mengakui hukum adat baik melalui peraturan perundang-undangan maupun putusan pengadilan. Kedua, pluralisme hukum kuat yang dideskripsikan melalui konsep wilayah sosial semi-otonom, forum shopping, dan shopping forum. Terakhir, pluralisme hukum multi-sited yang digunakan untuk menjelaskan hubungan berbagai fenomena hukum antara hukum adat (lokal), nasional, dan internasional serta peran teknologi informasi dan komunikasi dalam menjembatani hubungan tersebut.

Article Details

Section
Articles

References

Abbas, Ilham, dkk. “Hak Penguasaan Istri terhadap Mahar Sompa Perkawinan Adat Bugis Makassar (Kajian Putusan PA Bulukumba Nomor 45/Pdt.G/2011/PABlk)”. Kanun Jurnal Ilmu Hukum, 20, 2 (2018): 203-18. DOI: 10.24815/kanun.v20i2.10659.

Asrinaldi dan Yoserizal. “Problems with the Implementation of Adat Basandi Syarak Syarak Basandi Kitabullah Philosophy”. Masyarakat, Kebudayaan dan Politik, 33, 2 (2020): 162-73. DOI: 10.20473/mkp.V33I22020.162-173.

Atmaja, Gede Marhaendra Wija. “Politik Pluralisme Hukum dalam Pengakuan Kesatuan Masyarakat Hukum Adat dengan Peraturan Daerah”. Disertasi, Universitas Brawijaya, Malang, 2012.

Barnes, R. H. “A Catholic Mission and the Purification of Culture: Experience in An Indonesia Community”. JASO, 23, 2 (1992): 169-80.

Bemmelen, Sita Thamar van dan Mies Grijns. “Relevansi Kajian Hukum Adat: Kasus Perkawinan Anak dari Masa ke Masa”. Mimbar Hukum, 30, 3 (2018): 516-43. DOI: 10.22146/jmh.38093.

Benda-Beckmann, Franz von dan Keebet von Benda-Beckmann. “Myths and Stereotypes about Adat Law: A Reassessment of Van Vollenhoven in the Light of Current Struggles over Adat Law in Indonesia”. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Bolkenkunde, 168, 2/3 (2011): 167-95. DOI: 10.2307/41288760.

Benda-Beckmann, Franz von, Keeben von Benda-Beckmann, dan Anne Griffiths. “Mobile People, Mobile Law: An Introduction”. Dalam Mobile People, Mobile Law Expanding Legal Relations in a Contracting World, diedit oleh Franz von Benda-Beckmann, Keeben von Benda-Beckmann dan Anne Griffiths, 1-25. Burlington: Ashgate Publishing Company, 2005.

Benda-Beckmann, Keebet von. “Forum Shoppping and Shopping Forums: Dispute Processing in A Minangkabau Village in West Sumatera”. Journal of Legal Pluralism,19 (1981): 117-59. DOI: 10.1080/07329113.1981.10756260.
Campbell-Nelson, Karen. “Learning Resistance in West Timor”. Disertasi, University Massachusetts Amherst, Armherst, 2003.

Dahlan, Muhammad. “Rekognisi Hak Masyarakat Hukum Adat dalam Konstitusi”. Undang: Jurnal Hukum, 1, 2 (2018): 187-218. DOI: 10.22437/ujh.1.2.187-218.

Fitzpatrick, Daniel. “Disputes and Pluralism in Modern Indonesian Land Law”. Yale Journal of International Law, 22, 1 (1997): 171-212.

Ginting, Wiranta Yudha dan Crsitina Espinosa. “Indigenous Resistance to Land Grabbing in Mereauke, Indonesia: The Importance and Limits of Identity Politics and the Global-Local Coalitions”. International Journal of Social Science and Business, 1, 3 (2016): 1-14.

Griffiths, John. “Memahami Pluralisme Hukum, Sebuah Deskripsi Konseptual”. Dalam Pluralisme Hukum: Sebuah Pendekatan Interdisiplin, diedit oleh Perkumpulan untuk Pembaharuan Hukum Berbasis Masyarakat dan Ekologis (HuMa), 69-117. Jakarta: Perkumpulan untuk Pembaharuan Hukum Berbasis Masyarakat dan Ekologis (HuMa), 2005.

Griffiths, John. “What is Legal Pluralism?”. Journal of Legal Pluralism and Unofficial Law, 24, 2, (1986): 1-55. DOI: 10.1080/07329113.1986.10756387.

Hermayulis. “Penerapan Hukum Pertanahan dan Pengaruhnya terhadap Hubungan Kekerabatan pada Sistem Kekerabatan Matrilineal Minangkabau di Sumatera Barat”. Disertasi, Universitas Indonesia, Jakarta, 1999.

Hurgronje, C. Snouck. The Achehnese Vol. I. Terjemahan A.W.S. O’Sullivan. Leyden: Late E.J. Brill, 1906.

Irianto, Sulistyowati. Perempuan di antara Berbagai Pilihan Hukum (Studi mengenai Strategi Perempuan Batak Toba untuk Mendapatkan Akses kepada Harta Waris melalui Proses Penyelesaian Sengketa). Jakarta: YayasanPustaka Obor Indonesia, 2012.

Irianto, Sulistyowati. “Pluralisme Hukum dalam Perspektif Global”. Dalam Kajian Sosio-Legal, diedit oleh Adrian W. Bedner, dkk., 157-70. Denpasar & Jakarta: Pustaka Larasan, Universitas Indonesia, Universitas Leiden, Universitas Groningen, 2012.

Jayus, Jaja Ahmad. “Eksistensi Pewarisan Hukum Adat Batak Kajian Putusan Nomor 1/PDT.G.2015/PB.Blg dan Nomor 439/PDT/2015/PT-Mdn”. Jurnal Yudisial, 12, 2 (2019): 235-53. DOI: 10.29123/jy.v12i2.384.

Kase, Dhesy A. Model Penyelesaian Sengketa Internasional Berbasis Hukum Adat. Kupang: Media Centre Publishing, 2018.

Masril dan Ade Kosasih. “Keberlakukan Asas Ne Bis in Idem terhadap Putusan Pengadilan Adat dalam Tata Hukum Indonesia”. Al-Imarah: Jurnal Pemerintahan dan Politik Islam, 4, 1, (2019): 49-56. DOI: 10.29300/imr.v4i1.2167.

Moore, Sally Falk. “Law and Social Change: the Semi-Autonomous Social Field as an Appropriate Subject of Study”. Law and Society Review, 7, 4 (1972): 719-46. DOI: 10.2307/3052967.

Pradhani, Sartika Intaning. “Perspektif Pemikiran Hukum Barat dalam Penemuan Hukum Adat oleh Hakim: Studi Kasus Putusan Sengketa Tanah Adat di Pengadilan Negeri Muara Teweh, Padang, Makale, dan Painan”. Bhumi: Jurnal Agraria dan Pertanahan, 6, 1 (2020): 1-14. DOI: 10.31292/jb.v6i1.420.

Pradhani, Sartika Intaning. “Traditional Rights of Indigenous People in Indonesia: Legal Recognition and Court Interpretation”. Jambe Law Journal, 1, 2 (2018): 177-205. DOI: 10.22437/jlj.1.2.177-205.

Rasyid, Laila M. “Penerapan Norma Adat Terang dan Tunai dalam Praktek Peradilan Perdata (Kajian Putusan Pengadilan Nomor 23/Pdt.G/2013/PN.Bj). Jurnal Ilmu Hukum Reusam, 7, 2 (2019): 1-14.

Rasyid, Laila M. “Pengakuan terhadap Hukum Adat dalam Kajian Putusan Kasus Tanah Hibah Adat di Pengadilan Sigli”. Riau Law Journal, 1, 1 (2017): 61-72. DOI: 10.30652/rlj.v1i1.4177.

Redi, Ahmad, Yuwono Prianto, Tundjung Herning Sitabuana, dan Ade Adhari. “Konstitusionalitas Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat atas Hak Ulayat Rumpon di Provinsi Lampung”. Jurnal Konstitusi, 14, 3 (2017): 463-88. DOI: 10.31078/jk1431.

Rimawati. “Pilihan Hukum Penyelesaian Sengketa Pelayanan Kesehatan Melalui Pranata Adat dan Pranata Hukum Formil”. Ringkasan Disertasi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 2019.

Roewiastoeti, Maria Rita. “Dampak Sosial Politik Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35/PUU-X/2012”.Wacana, 16, 33 (2014): 49-59.

Roth, Dik dan Gede Sedana. “Reframing Tri Hita Karana: From ‘Balinese Culture’ to Politics”. The Asia Pacific Journal of Anthropology, 16, 2 (2015): 157-75. DOI: 10.1080/14442213.2014.994674.

Santos, Boventura de Sausa. “Law: A Map of Misreading towards a Postmodern Conception of Law”. Journal of Law and Society, 14, 3 (1987): 279-302. DOI: 10.2307/1410186.

Setlight, Mercy M. M. “Penerapan Hukum Pidana Adat dalam Putusan Pengadilan di Wilayah Pengadilan Negeri Tahuna”. Lex et Societatis, 3, 4 (2015): 154-66.

Simarmata, Rikardo. “Pendekatan Positivistik dalam Studi Hukum Adat”. Mimbar Hukum, 30, 3 (2018): 465-89. DOI: 10.22146/jmh.37512.

Simarmata, Rikardo. “The Enforceability of Formalised Customary Land Rights in Indonesia”. Australian Journal of Asian Law, 19, 2 (2019): 1-15.

Simbolon, Indira Juditka. “Peasant Women and Access to Land: Customary Law, State Law and Gender-based Ideology-The Case of Toba Batak (North Sumatera)”. Disertasi, University of Wageningen, Wageningen 1988.

Siscawati, Mia. “Pertaruangan Penguasaan Hutan dan Perjuangan Perempuan Adat”. Wacana, 16, 33 (2014): 159-97.

Sulastriyono dan Sandra Dini Febri Aristya. “Penerapan Norma dan Asas-Asas Hukum Adat dalam Praktik Peradilan Perdata”. Mimbar Hukum, 24, 1 (2012): 25-40. DOI: 10.22146/jmh.16147.

Sulastriyono dan Sartika Intaning Pradhani. “Pemikiran Hukum Adat Djojodigoeno dan Relevansinya Kini”. Mimbar Hukum, 30, 3 (2018): 449-64.DOI: 10.22146/jmh.36956.

Sumardjono, Maria S. W. Pluralisme Hukum Sumber Daya Alam dan Keadilan dalam Pemanfaatan Tanah Ulayat. Yogyakarta: Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, 2018.

Universitas Gadjah Mada, Pusat Kajian Hukum adat ‘Djojodigoeno’ Fakultas Hukum, dan Koalisi Masyarakat Sipik Tolak Living Law dalam RKUHP. Brief Paper: Hukum yang Hidup dalam Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Jakarta: Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia & Pusat Kajian Hukum Adat ‘Djojodigoeno’ Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, 2020.

Utama, Tody Sasmitha Jiwa. “Hukum yang Hidup dalam Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP): antara Akomodasi dan Negasi”. Masalah-Masalah Hukum, 49, 1 (2020): 14-25. DOI: 10.14710/mmh.49.1.2020.14-25.

Utama, Tody Sasmitha Jiwa. “‘Masyarakat Hukum Adat: Persekutuan Hukum (Rechtsgemeenschappen) atau Subjek Hukum?”. Makalah Simposium Nasional Masyarakat Adat II, diselenggarakan Epistema Institute, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Perkumpulan HuMa, Pusat Kajian Hukum Adat Djojodigoeno Universitas Gadjah Mada, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Fakultas Hukum Universitas Pancasila, Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif, dan Badan Registrasi Wilayah Adat, di Universitas Pancasila, Jakarta, 16-17/5/2016.

Utama, Tody Sasmitha Jiwa dan Sandra Dini Febri Aristya. “Kajian tentang Relevansi Peradilan Adat terhadap Sistem Peradilan Perdata Indonesia”. Mimbar Hukum, 27, 1 (2015): 57-67. DOI: 10.22146/jmh.15910.

Vel, Jacqueline, Yando Zakaria, Adriaan Bedneer. “Law-Making as a Strategy for Change: Indonesia’s New Village Law. Asian Journal of Law and Society, 4, 2 (2017): 447-71. DOI: 10.1017/als.2017.21.

Volenhoven, C. Van. Penemuan Hukum Adat. Jakarta: Penerbit Djambatan, cetakan kedua, 1987.

Vollenhoven, C. van. Van Vollenhoven on Indonesian Adat Law Selection from Het Adatrecht Van Nederlandsch-Indie (Volume I, 1918; Volume II, 1931), diedit oleh J. F. Holleman. Leiden: KITLV, 1981.

Warman, Kurnia. “Pengaturan Sumberdaya Agraria pada Era Desentralisasi Pemerintahan di Sumatera Barat (Interaksi Hukum Adat dan Hukum Negara dalam Perspektif Keangekaragaman dalam Kesatuan Hukum). Disertasi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 2009.

Zakaria, R. Yandi. “Kritik Masyarakat (Hukum) Adat dan Potensi Implikasinya terhadap Perebutan Sumberdaya Hutan Pasca-Putusan MK Nomor 35/PUU-X/2012: Studi Kasus Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur”. Wacana, 16, 33 (2014): 99-135.